konsumsi gula

Aktivitas sehari-hari manusia tidak bisa dipisahkan dari konsumsi gula. Sejak bangun tidur sampai menutup mata di malam hari, pemanis buatan itu selalu menemani kegiatan manusia.  Rasa manis di dalam gula, diyakini mampu membangkitkan perasaan nyaman pada manusia.

Ketersediaan gula dalam kehidupan, telah melintasi beberapa fase kebutuhan. Sejak mulai diproduksi pada awal abad ke-11, gula adalah barang mewah. Pengolahan yang masih langka pada saat itu, menampilkan kesan prestisius bagi setiap produsen dan konsumennya.

Penjelajahan bangsa-bangsa Eropa ke berbagai wilayah di Afrika dan Belahan Timur, menjadi aktivitas utama dalam perdagangan gula. Permintaan gula selalu meningkat seiring tahun. Hingga akhir abad ke-18, ketersediaan gula di Eropa masih dikhususkan bagi orang-orang kaya saja.

Sejalan dengan perkembangan teknologi pabrikan gula, konsumsi gula pun dapat dirasakan oleh masyarakat kelas bawah dan menengah. Di Hindia Belanda, khususnya Pulau Jawa, perkebunan-perkebunan gula modern menghiasi wilayah pantai utara.

Pemberlakukan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) oleh Gubernur Johannes van den Bosch, turut berperan penting membawa gula olahan Hindia Belanda, dikenal dalam pergaulan internasional. Perbaikan-perbaikan teknologi pun semakin memperkuat posisi tawar Hindia Belanda dalam konsumsi gula dunia.

Yang perlu diperhatikan, konsumsi gula di negara penghasil biasanya selalu lebih besar. Jumlahnya mencapai sekitar 70 persen. Artinya, ketersediaan gula di dalam negeri masih sangat penting. Gula masih sangat dominan, dalam pergaulan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Konsumsi Gula dalam Pergaulan

Dominasi dan ketergantungan pergaulan masyarakat Indonesia terhadap gula, didukung pula oleh menjamurnya variasi olahan gula. Sederet menu yang ditawarkan oleh ratusan kedai dan restoran, di kota-kota besar saja, sudah mudah dikenali sebagai penanda konsumsi gula yang berlebihan.

Satu sendok madu, segelas susu, atau secangkir kopi, biasanya rutin dikonsumsi untuk mengawali hari mereka. Menjelang dan sesudah makan siang, konsumsi gula ditambah lagi dengan pesanan sepotong es krim atau, yang agak ringan, pesanan segelas jus atau yoghurt. Akhirnya, sebagai penutup hari, pilihan konsumsi gula biasanya dilakukan lewat secangkir teh atau kopi.

Jumlah konsumsi gula harian di atas, masih akan bertambah besar jika mereka rutin bergaul dan menghabiskan waktu, ke sejumlah kafe. Sebagai pengingat, berikut ini beberapa risiko yang harus Anda tahu dari konsumsi gula yang berlebihan.

  1. Kecanduan

Keinginan mengecap rasa manis memang manusiawi. Akan tetapi, perilaku ketergantungan pada pemanis, menandakan Anda sudah kecanduan gula. Seperti sisa sayang pada mantan, kecanduan gula meningkatkan risiko penyakit dan mengganggu kehidupan lahir batin Anda.

  1. Tekanan Darah Tinggi

Selama ini Anda akan menuduh, secara polos, keasinan garamlah yang menyebabkan tekanan darah tinggi. Padahal, kemanisan gula juga punya potensi yang tidak kalah berbahaya. Fatalnya, orang cenderung berdalih dengan perasaan menyenangkan hasil kecapan gula.

  1. Kerusakan Gigi

Konsumsi gula dan garam memang seolah selalu berlawanan dampaknya. Kalau garam banyak diyakini membantu meredakan rasa sakit pada gigi, maka gula dianggap biang keladi penyebab sakit gigi. Bukan hanya nyeri karena pembengkakan, konsumsi gula yang berlebihan juga memicu karang gigi dan gigi berlubang.

  1. Diabetes

Tingginya risiko dan ancaman kematian dari diabetes, mendasari peringatan Hari Diabetes se-Dunia. Artinya, penyakit ini sudah digolongkan sebagai salah satu penyakit paling berbahaya. Jadi, kalau Anda mau memperingati Hari Diabetes se-Dunia sebagai penderita, silakan saja pertahankan kekalapan Anda dalam mengonsumsi gula.

Mengendalikan Gula

Satu-satunya jalan, agar tetap dapat menikmati gula secara nyaman dan aman, adalah dengan mengendalikan konsumsi hariannya. Pengendalian konsumsi gula sangat bergantung pada penghitungan jumlah gula, yang hendak diolah oleh tubuh.

Ada rekomendasi umum, yang menerapkan pola konsumsi “69” untuk mengendalikan jumlah konsumsi gula ke dalam tubuh. Definisi 69 ini maksudnya takaran 6 sendok teh gula untuk perempuan, dan 9 sendok teh gula untuk laki-laki. Di luar jumlah itu, berarti Anda harus siap-siap ke dokter.

Sebelum Anda menghadapi ketergantungan dengan dokter, yang memuakkan, sebaiknya Anda mencegah sendiri perilaku berlebihan dalam konsumsi gula. Anda tidak harus pandai berhitung untuk mulai mengubah perilaku tersebut. Cukup cermati saja beberapa saran berikut ini.

  1. Menahan Diri Untuk Konsumsi Gula

Padanan kata yang paling sesuai dengan cara ini adalah ibadah puasa. Anda bisa mencoba menahan diri dengan berpuasa dua kali dalam seminggu. Untuk Anda yang terbiasa melakukan aktivitas berat sehingga tidak bisa berpuasa, cukup berpuasa gula saja. Empat kali seminggu saja, sudah cukup untuk mulai memulihkan kecanduan Anda pada gula.

  1. Menyusun Siasat Konsumsi Gula

Selain menahan diri dengan menjalankan puasa, Anda juga perlu mencoba menyiasati pilihan makanan dan minuman. Semakin banyaknya pilihan konsumsi yang kaya gula, dapat diiringi dengan memperbanyak minum air putih. Bila Anda menyadari konsumsi gula sudah terlalu berlebihan, tambahkanlah jumlah konsumsi air putihnya.

  1. Menata Ulang Gaya Hidup

Pada hakikatnya, pergaulan Anda dengan gula dan sebaliknya, didasarkan oleh dorongan secara tidak sadar. Kurangi bergaul di kafe dan jadwalkan kunjungan ke pusat olahraga, sekurang-kurangnya tiga kali seminggu.

Demikianlah uraian tentang risiko dan solusi konsumsi gula dalam pergaulan. Selamat mencoba dan semoga sehat selalu, ya!

Baca juga:Cara Membuat BPJS Kesehatan Perorangan Dengan Online dan Offline

Share ke media sosial
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •