membaca travel map

Pada suatu seminar tentang komunikasi massa, terselip pembahasan soal travel map yang mengusik perhatian saya. Dikatakan bahwa kemampuan seseorang membaca travel map, berhubungan erat dengan perilaku sosial mereka. Konon, perilaku orang yang hiperbolis, akan mempersulit mereka dalam membaca peta.

Dalam pergaulan sehari-hari, orang-orang yang hiperbolis (sering juga disebut lebay) ini, tidaklah sulit ditemukan. Pikiran, ucapan, dan tindakannya, yang sengaja dibuat dramatis, jelas menganggu kenyamanan pergaulan. Jadi, sebenarnya yang sulit itu adalah menemukan orang hiperbolis yang tidak dramatis.

Manusia-manusia hiperbolis tidak memandang jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama “berbakat” untuk jadi seorang hiperbolis. Anggapan ini sekaligus menggugurkan temuan Allan Pease dan Barbara Pease, dalam buku kondang mereka, Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps.

Buku psikologi sosial, yang rilis tahun 1998 itu, secara umum membahas perbedaan proses berpikir antara laki-laki dan perempuan. Karena pembentukan prosesnya sudah berbeda secara alamiah, laki-laki dan perempuan pun melakukan banyak perbedaan dalam merespons hal-hal tertentu.

Perbedaan nyata, yang baru saja gugur, adalah soal ketidakcakapan perempuan dalam membaca peta. Terkait hal ini, Allan dan Barbara berasumsi bahwa perempuan memiliki keterbatasan pemahaman arah dan spasial. Meskipun kasus tidak bisa membaca peta hanyalah sekadar contoh, namun kecenderungan stereotip dan diskriminasinya sangat besar.

Pelajaran untuk Allan dan Barbara, agar tidak terkesan diskriminatif, adalah berhenti membandingkan dua susunan kalimat yang tidak sepadan. Tentu saja pemilihan judul buku itu sangatlah taktis, demi pemasaran.

Masalahnya, susunan predikat-objek pada “Men don’t listen” sepertinya sengaja dibuat tidak selengkap susunan predikat-objek-keterangan pada “Women can’t read maps”. Padahal, ada ratusan contoh perilaku lain, yang bisa disusun untuk digarisbawahi menjadi judul.

Kesulitan di Abad 21

Beranjak dari temuan usang, temuan soal pengaruh perilaku hiperbolis dengan kemampuan membaca travel map, jelas lebih mutakhir. Pada saat buku mereka laris di pasaran, Allan Pease dan Barbara Pease mungkin belum dianugerahi akses ke Google Maps, MAPS.me, Waze, atau Here.

Perkembangan terkini memang memaparkan kesulitan yang sama, dengan kesulitan 19 tahun yang lalu. Tetap saja ada orang yang masih kesulitan membaca travel map. Akan tetapi, kesulitan ini tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin.

Kesulitan, yang berkembang di abad ke-21 ini, lebih disebabkan perilaku hiperbolis mereka. Secara singkat, inilah beberapa alasan seorang hiperbolis kerap kesulitan membaca travel map.

  1. Pemikir, tapi Bukan Pembaca

Karakter dramatis yang biasa ditampilkan dalam perilaku hiperbolisnya, menuntut seorang hiperbolis untuk banyak berpikir. Mereka akan menemukan banyak cara untuk menarik perhatian sekelilingnya. Mereka pandai membaca situasi demi meraih momen yang tepat. Tapi, mereka tidak akan sanggup membaca panduan bergaris atau berparagraf.

  1. Pembicara, tapi Bukan Pendengar

Jika biasanya rumus bercengkerama menempatkan pembicara dan pendengar pada tingkat yang sama, maka di hadapan seorang hiperbolis, rumus itu akan lenyap dengan sendirinya. Dia suka ditanya, tapi tidak suka menerima penjelasan dan diberi petunjuk.

  1. Suka Mempersulit Keadaan

Kasus sesederhana memilih rute, bisa memicu perdebatan sengit di balik kemudi mobil. Kesederhanaan memang ibarat musuh utama bagi seorang hiperbolis. Seperti slogan, “kalau bisa dipersulit jangan dipermudah”, seorang hiperbolis tidak akan mudah diajak untuk menyelesaikan masalah.

Cara Keluar dari Kesulitan Abad 21

Keterampilan membaca travel map memang tidak menjadikan Anda orang paling beruntung di dunia. Tapi, dengan fasih membaca travel map, Anda tidak akan menjadi orang paling malang sedunia. Oleh karena itu, jangan sampai rencana perjalanan Anda menjadi kacau karena kesulitan membaca travel map.

Berikut ini beberapa cara mudah yang bisa Anda lakukan.

  1. Memiliki Tujuan

Bahkan seorang pengelana pun, pasti punya tujuan berkelana. Minimal, tujuan itu berbentuk tempat, orang, atau pengalaman. Dengan tujuan yang jelas, Anda akan mencari alamat. Selanjutnya, Anda akan menemukan lokasi dan mempelajari rute terbaik untuk mencapainya.

  1. Mengingat Petunjuk

Dalam usaha menentukan dan menemukan suatu lokasi, akan lebih mudah jika Anda menciptakan petunjuk sendiri. Demi menghindari pembaruan peta yang agak lambat, Anda bisa langsung mencari tiga sampai empat penanda di sekitar lokasi tujuan. Penanda yang paling umum adalah hotel, restoran, terminal, SPBU, atau fasilitas jembatan penyeberangan.

  1. Pahami Istilah Jalanan

Ketika Anda membaca atau mendengar arahan dari mesin pencarian Google, akan muncul daftar istilah seperti “belok kanan setelah 500 meter” atau “tetap di sisi kiri dan ambil belokan kiri pertama”. Jadi, mulailah mengenali istilah-istilah itu, demi memperkaya kosakata perjalanan Anda.

  1. Banyak Bergaul

Daripada arah perjalanan Anda disesatkan orang asing, lebih baik Anda memanfaatkan koneksi di grup travelling. Tanyakan serinci mungkin tentang petunjuk yang bisa Anda dapatkan di sekitar lokasi.

  1. Tingkatkan Jam Perjalanan

Pada akhirnya, tidak ada guru yang paling baik, selain pengalaman. Dengan meningkatkan jumlah perjalanan, pengalaman Anda memakai travel map juga akan bertambah. Jadi, rencanakanlah beberapa perjalanan jarak pendek dan jarak panjang, agar Anda semakin terlatih dengan travel map.

Itulah 5 cara mudah yang bisa membantu Anda untuk membaca travel map. Semoga bermanfaat dan selamat berlibur!

Baca juga: Berpolitik yang Simpatik Anak Muda di Media Sosial

Share ke media sosial
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •