berpolitik

Anak muda biasanya identik dengan berpolitik yang tidak simpatik. Mayoritas dari mereka adalah mahasiswa-mahasiswa, yang cenderung apatis pada mata kuliah politik. Mereka juga kerap menghindari hal-hal yang berkaitan dengan politik, seperti pembahasan birokasi, gerakan sosial, hingga pemilihan kepala daerah.

Beragam alasan dijadikan pembenaran untuk tetap menjaga jarak dengan urusan politik. Alasan paling umum adalah kepedulian pada politik tidak akan mengubah keadaan. Para mahasiswa tersebut yakin, setinggi apa pun nilai kuliah politik mereka, kehidupan sosial politik tidak akan terpengaruh sama sekali.

Dari contoh tersebut bisa didapat kesimpulan sementara, bahwa tipe mahasiswa yang apatis pada politik, sebenarnya merasa tidak terwakili aspirasinya dalam politik. Mereka tidak percaya, suara mereka akan didengar dan ditindaklanjuti oleh para perwakilan politik di parlemen.

Politik mengenal pemanfaatan momentum. Hal inilah yang perlahan, mengubah tren apatis kalangan mahasiswa. Meskipun partai-partai politik tidak berusaha memperbaiki diri, namun momentum pemilihan kepala daerah (Pilkada) menjadi titik balik perubahan tren apatis dari para mahasiswa.

Titik balik keterlibatan anak-anak muda berpendidikan itu, terjadi pada saat penyelenggaraan Pilkada DKI Jakarta tahun 2012. Babak finalnya mementaskan pasangan Bapak Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli (Foke-Nara) dengan Bapak Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Basuki).

Seketika, politik menjadi menarik bagi mahasiswa. Kebetulan, pasangan Jokowi-Basuki menggagas model kampanye kreatif. Para mahasiswa yang sebelumnya apatis, berubah menjadi sangat bersemangat untuk terlibat dalam penerapan kampanye-kampanye kreatif. Salah satunya lewat budaya populer, di media sosial.

Dengan mengadopsi strategi pemasaran merek (brand), tim kampanye Jokowi-Basuki berhasil mencuri perhatian mahasiswa-mahasiswa muda. Mereka bergerak masif di media sosial dan menyebarluaskan konten-konten kreatif seperti flash mob dan gim online.

Para mahasiswa, yang kebanyakan adalah pemilih pemula, langsung terdorong aktif merespons konten-konten kreatif tersebut. Media sosial, yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, mulai ramai dengan berbagai konten seputar Pilkada DKI. Pada saat itu yang banyak dipakai adalah Twitter, Facebook, dan YouTube.

Penyampaian program kerja yang ringan dan atraktif, membuat sejumlah anak muda teryakinkan bahwa pasangan Jokowi-Basuki akan membawa aspirasi dan membuat perubahan di DKI Jakarta.

Banyak pula mahasiswa yang juga terlibat langsung sebagai sukarelawan. Sampai di sini, perubahan orientasi politik mereka sebenarnya masih terlihat positif. Hasilnya, pasangan yang didukung kampanye kreatif itu, berhasil memenangkan babak final Pilkada DKI.

Kesimpatikan berubah arah pada momentum politik selanjutnya. Kali ini pentasnya adalah pemilihan presiden (Pilpres) tahun 2014. Jika Pilkada DKI menjadi titik balik tren apatis mahasiswa, Pilpres 2014 justru menjadi nadir dari kesimpatikan mereka.

Indikasi nadir mengacu pada cara-cara mendukung yang terkesan kasar. Pada masa inilah istilah negative campaign dan black campaign, mulai menggema di seantero internet. Puluhan, bahkan ratusan, meme negatif berseliweran menghiasi timeline Facebook dan Twitter.

Pada masa kampanye Pilpres 2014, konten kreatif ditenggelamkan oleh konten-konten fitnah. Tujuannya sangat sederhana, yakni untuk menjatuhkan pasangan Bapak Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa serta pasangan Bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Ada dua hal utama yang menyebabkan tergerusnya rasa simpatik. Pertama perihal perubahan perilaku dukungan. Anak-anak muda, yang dua tahun sebelumnya dilanda euforia kampanye kreatif, banyak yang terlibat aktif secara langsung dalam gerakan sukarelawan. Penempatan diri mereka pun menjadi berbeda dan menjadi militan.

Penyebab kedua adalah segmentasi keterlibatan pemilih. Dengan semakin besarnya cakupan pemilih, pembagian dukungan pun telah melibatkan jutaan orang. Pada Pilpres 2014, segmentasi tersebut melibatkan pula perasaan-perasaan traumatis, keraguan, dan arogansi.

Dampak kesimpatikan politik yang tergerus masih terasa sampai momentum politik terbaru. Menjelang Pilkada DKI 2017, media sosial telah berubah menjadi arena pertarungan yang semakin kasar. Sanksi hukum sudah disiapkan untuk mengintai rilisan yang mengandung hate speech.

Sesungguhnya, kekalutan berpolitik di media sosial tidak cukup dikendalikan dengan ancaman hukum saja. Sebagai manusia, yang punya sifat alamiah menyesuaikan diri dengan keadaan, tantangan terbesarnya adalah memperbaiki sikap dan belajar dari kesalahan. Jadi, cobalah untuk:

  1. Sadar Diri

Setiap manusia terlahir dengan bakat dan proses pembentukan karakter yang berbeda. Mustahil memaksakan nalar dan pendapat pribadi, kepada orang lain yang berbeda pembentukan karakternya. Dengan berkaca pada diri sendiri, setiap orang akan tampak lebih simpatik karena kekayaan karakter yang berbeda-beda.

  1. Banyak Membaca

Semakin canggihnya medium informasi, seharusnya membuat orang lebih mudah menyalurkan minat baca. Tidak perlu gegabah memamerkan hasil bacaan kepada lawan debat. Tunjukkan saja kutipan-kutipan hasil bacaan itu dalam setiap rilisan dan ciakan. Tambahkan juga pelajaran yang didapat dari kutipan tersebut.

  1. Berpikir Sebelum Bertindak

Orang yang banyak membaca biasanya akan banyak bertanya. Dengan banyak bertanya, orang pasti banyak berpikir lebih dulu tentang hal yang akan ditanyakannya. Di sinilah pentingnya pertimbangan bertindak setelah berpikir. Eksistensi yang asal-asalan pun bisa dikurangi secara perlahan.

  1. Adil dalam Berpikir

Anak muda sering lalai menyebarkan kutipan-kutipan populer dari seorang tokoh. Kelalaian ini mengakibatkan Pramoedya Ananta Toer, semata-mata penghias timeline. Padahal banyak sekali konteks dan makna yang bisa dipahami dari kutipan Pram, dengan mempelajarinya secara cermat dan tenang.

Berpolitik yang simpatik, akan selalu menjadi tantangan berat bagi mereka yang apatis. Jadi, daripada terjebak dalam tren menyebarkan kebencian, lebih baik mulai memilah-milah sikap yang tepat, sejak dalam pikiran. Selamat mencoba!

Berpolitik yang Simpatik di Media Sosial

Anak muda biasanya identik dengan politik yang tidak simpatik. Mayoritas dari mereka adalah mahasiswa-mahasiswa, yang cenderung apatis pada mata kuliah politik. Mereka juga kerap menghindari hal-hal yang berkaitan dengan politik, seperti pembahasan birokasi, gerakan sosial, hingga pemilihan kepala daerah.

Beragam alasan dijadikan pembenaran untuk tetap menjaga jarak dengan urusan politik. Alasan paling umum adalah kepedulian pada politik tidak akan mengubah keadaan. Para mahasiswa tersebut yakin, setinggi apa pun nilai kuliah politik mereka, kehidupan sosial politik tidak akan terpengaruh sama sekali.

Dari contoh tersebut bisa didapat kesimpulan sementara, bahwa tipe mahasiswa yang apatis pada politik, sebenarnya merasa tidak terwakili aspirasinya dalam berpolitik. Mereka tidak percaya, suara mereka akan didengar dan ditindaklanjuti oleh para perwakilan politik di parlemen.

Politik mengenal pemanfaatan momentum. Hal inilah yang perlahan, mengubah tren apatis kalangan mahasiswa. Meskipun partai-partai politik tidak berusaha memperbaiki diri, namun momentum pemilihan kepala daerah (Pilkada) menjadi titik balik perubahan tren apatis dari para mahasiswa.

Titik balik keterlibatan anak-anak muda berpendidikan itu, terjadi pada saat penyelenggaraan Pilkada DKI Jakarta tahun 2012. Babak finalnya mementaskan pasangan Bapak Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli (Foke-Nara) dengan Bapak Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Basuki).

Seketika, politik menjadi menarik bagi mahasiswa. Kebetulan, pasangan Jokowi-Basuki menggagas model kampanye kreatif. Para mahasiswa yang sebelumnya apatis, berubah menjadi sangat bersemangat untuk terlibat dalam penerapan kampanye-kampanye kreatif. Salah satunya lewat budaya populer, di media sosial.

Dengan mengadopsi strategi pemasaran merek (brand), tim kampanye Jokowi-Basuki berhasil mencuri perhatian mahasiswa-mahasiswa muda. Mereka bergerak masif di media sosial dan menyebarluaskan konten-konten kreatif seperti flash mob dan gim online.

Para mahasiswa, yang kebanyakan adalah pemilih pemula, langsung terdorong aktif merespons konten-konten kreatif tersebut. Media sosial, yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, mulai ramai dengan berbagai konten seputar Pilkada DKI. Pada saat itu yang banyak dipakai adalah Twitter, Facebook, dan YouTube.

Penyampaian program kerja yang ringan dan atraktif, membuat sejumlah anak muda teryakinkan bahwa pasangan Jokowi-Basuki akan membawa aspirasi dan membuat perubahan di DKI Jakarta.

Banyak pula mahasiswa yang juga terlibat langsung sebagai sukarelawan. Sampai di sini, perubahan orientasi politik mereka sebenarnya masih terlihat positif. Hasilnya, pasangan yang didukung kampanye kreatif itu, berhasil memenangkan babak final Pilkada DKI.

Kesimpatikan berubah arah pada momentum politik selanjutnya. Kali ini pentasnya adalah pemilihan presiden (Pilpres) tahun 2014. Jika Pilkada DKI menjadi titik balik tren apatis mahasiswa, Pilpres 2014 justru menjadi nadir dari kesimpatikan mereka.

Indikasi nadir mengacu pada cara-cara mendukung yang terkesan kasar. Pada masa inilah istilah negative campaign dan black campaign, mulai menggema di seantero internet. Puluhan, bahkan ratusan, meme negatif berseliweran menghiasi timeline Facebook dan Twitter.

Pada masa kampanye Pilpres 2014, konten kreatif ditenggelamkan oleh konten-konten fitnah. Tujuannya sangat sederhana, yakni untuk menjatuhkan pasangan Bapak Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa serta pasangan Bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Ada dua hal utama yang menyebabkan tergerusnya rasa simpatik. Pertama perihal perubahan perilaku dukungan. Anak-anak muda, yang dua tahun sebelumnya dilanda euforia kampanye kreatif, banyak yang terlibat aktif secara langsung dalam gerakan sukarelawan. Penempatan diri mereka pun menjadi berbeda dan menjadi militan.

Penyebab kedua adalah segmentasi keterlibatan pemilih. Dengan semakin besarnya cakupan pemilih, pembagian dukungan pun telah melibatkan jutaan orang. Pada Pilpres 2014, segmentasi tersebut melibatkan pula perasaan-perasaan traumatis, keraguan, dan arogansi.

Dampak kesimpatikan berpolitik yang tergerus masih terasa sampai momentum politik terbaru. Menjelang Pilkada DKI 2017, media sosial telah berubah menjadi arena pertarungan yang semakin kasar. Sanksi hukum sudah disiapkan untuk mengintai rilisan yang mengandung hate speech.

Sesungguhnya, kekalutan berpolitik di media sosial tidak cukup dikendalikan dengan ancaman hukum saja. Sebagai manusia, yang punya sifat alamiah menyesuaikan diri dengan keadaan, tantangan terbesarnya adalah memperbaiki sikap dan belajar dari kesalahan. Jadi, cobalah untuk:

  1. Sadar Diri

Setiap manusia terlahir dengan bakat dan proses pembentukan karakter yang berbeda. Mustahil memaksakan nalar dan pendapat pribadi, kepada orang lain yang berbeda pembentukan karakternya. Dengan berkaca pada diri sendiri, setiap orang akan tampak lebih simpatik karena kekayaan karakter yang berbeda-beda.

  1. Banyak Membaca

Semakin canggihnya medium informasi, seharusnya membuat orang lebih mudah menyalurkan minat baca. Tidak perlu gegabah memamerkan hasil bacaan kepada lawan debat. Tunjukkan saja kutipan-kutipan hasil bacaan itu dalam setiap rilisan dan ciakan. Tambahkan juga pelajaran yang didapat dari kutipan tersebut.

  1. Berpikir Sebelum Bertindak

Orang yang banyak membaca biasanya akan banyak bertanya. Dengan banyak bertanya, orang pasti banyak berpikir lebih dulu tentang hal yang akan ditanyakannya. Di sinilah pentingnya pertimbangan bertindak setelah berpikir. Eksistensi yang asal-asalan pun bisa dikurangi secara perlahan.

  1. Adil dalam Berpikir

Anak muda sering lalai menyebarkan kutipan-kutipan populer dari seorang tokoh. Kelalaian ini mengakibatkan Pramoedya Ananta Toer, semata-mata penghias timeline. Padahal banyak sekali konteks dan makna yang bisa dipahami dari kutipan Pram, dengan mempelajarinya secara cermat dan tenang.

Berpolitik yang simpatik, akan selalu menjadi tantangan berat bagi mereka yang apatis. Jadi, daripada terjebak dalam tren menyebarkan kebencian, lebih baik mulai memilah-milah sikap yang tepat, sejak dalam pikiran. Selamat mencoba!

Baca juga: Membaca Travel Map Bagi Pemula Dengan Mudah

Share ke media sosial
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •